Site icon indovoices.com

🔍 Tarif AS Tetap 32%, Deregulasi Impor Indonesia Gagal Jadi Alat Tawar?

indovoices.com – 🔍 Tarif AS Tetap 32%, Deregulasi Impor Indonesia Gagal Jadi Alat Tawar?

🏛️ Ambisi Deregulasi: Membuka Pintu untuk Investasi

Pemerintahan Presiden Prabowo memulai langkah berani di tahun pertamanya melalui kebijakan deregulasi impor besar-besaran. Tujuannya jelas: menciptakan iklim investasi yang lebih terbuka, mempercepat arus barang, dan memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global. Langkah awal yang diambil adalah mencabut Permendag No. 8 Tahun 2024, yang selama ini dianggap menghambat efisiensi logistik dan industri.

Sebagai penggantinya, pemerintah mengeluarkan 9 Permendag baru berbasis klaster sektor, seperti tekstil, pertanian, bahan kimia, perikanan, elektronik, barang bekas, dan lainnya. Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap dapat melakukan penyesuaian kebijakan secara lebih cepat dan sektoral—tanpa harus mengubah sistem secara keseluruhan.

⚙️ Efek Langsung Deregulasi Tahap I

Pemerintah melonggarkan aturan impor terhadap 10 komoditas utama seperti:

🎯 Target dampaknya:

 

⚠️ Risiko: Serbuan Produk Asing Tanpa Pengawasan

Namun, deregulasi ini berisiko tinggi jika tidak diimbangi dengan pengawasan ketat. Tanpa sistem:

… maka pasar domestik berisiko dibanjiri produk jadi impor, terutama dari Tiongkok, yang:

📈 Bahkan sebelum deregulasi ini, impor benang dan kain meningkat 123% antara 2015–2024. Kini, tanpa kuota dan pembatasan, ancaman membesar.

🌐 Negosiasi yang Gagal: AS Tetap Berlakukan Tarif 32%

Yang paling mengecewakan, deregulasi ini gagal jadi alat diplomasi perdagangan. Pemerintah sempat berharap bahwa membuka pasar domestik bisa membujuk Amerika Serikat untuk melonggarkan tarif ekspor Indonesia. Namun:

🔴 Mulai 1 Agustus 2025, seluruh produk ekspor dari Indonesia tetap dikenakan tarif impor 32% oleh AS.

Produk terdampak:

🧩 Strategi “Indonesia buka pasar – AS lunak tarif” tidak berhasil. Pemerintah AS menuntut kepastian daya saing nyata, bukan hanya goodwill atau wacana deregulasi.

🧨 Dampaknya: Industri Lokal Terjepit Dua Arah

Industri nasional kini berada di tengah tekanan ganda:

  1. Di dalam negeri: Dihantam produk impor murah

  2. Di luar negeri: Gagal ekspor karena beban tarif tinggi

Produsen lokal, terutama skala kecil dan menengah:

Beberapa bahkan mempertimbangkan berhenti produksi dan beralih jadi importir.

🛑 Risiko Konsumen: Murah tapi Berbahaya

Bagi konsumen, deregulasi ini terlihat menguntungkan—harga murah, barang banyak. Tapi tanpa pengawasan, pasar akan dibanjiri:

🎯 Risiko kesehatan dan keselamatan menjadi harga mahal dari “harga murah”.

🌏 Investor Asing Wait and See

Walau waktu perizinan dipangkas (dari 65 hari jadi beberapa hari), banyak investor asing masih menunggu. Alasannya:

 

🔚 Kesimpulan: Deregulasi Butuh Arah dan Keseimbangan

🔎 Deregulasi bukanlah kesalahan. Tapi tanpa pengawasan kuat dan strategi negosiasi yang terukur, kebijakan ini justru:

Jika dibiarkan, arah ekonomi nasional bisa bergeser dari industrialisasi ke deindustrialisasi sadar. Kita bukan tidak mampu memproduksi, tapi kita sengaja membiarkan industri dalam negeri kehilangan daya hidup.

Exit mobile version