Site icon indovoices.com

MENGGUNAKAN ASUMSI YANG TEPAT MENGHENTIKAN COVID 19

Indovoices.com-Covid 19  yang tidak  dapat dilihat secara kasat mata tetapi dampaknya  mematikan membuat kita  harus berasumsi.  Memastikan seseorang terpapar  Covid 19 membutuhkan waktu dan prosedur.  Prosedur   yang digunakan adalah  rapid test,  kemudian  uji  SWAB.  Rapid Test  yang menunjukkan positif atau negatif   belum memastikan  apakah terpapar  Covid 19 atau tidak. Kondisi inilah yang sering  membuat  kita harap-harap cemas.  Bagaimana menyikapi kondisi yang sulit ini.   Kita gamang dan semua negara di dunia pun gamang. 

Dalam kondisi  yang sulit untuk memastikan posotif Covid  19 yang membutuhkan waktu, maka kita harus mengunakan asumsi.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  asumsi itu adalah bermakna  dugaan yang diterima sebagai dasar atau landasan berpikir karena dianggap benar.  Mengasumsikan artinya menduga, memperkirakan, memperhitungkan, meramalkan.  

Sebagai contoh, kasus seorang ibu dari Aek Natolu, Kecamatan Lumban Julu,  Kabupaten Toba, Sumatra Utara  diumumkan Gugus Covid 19 Kabupaten   Simalungun JR Saragih   bahwa seorang ibu berinisial AS Positif Covid 19.  Pengumuman  Bupati Simalungun JR Saragih itu dibantah Gugus  Covid  19 Kabupaten Toba  Pontas Batubara dan Kadis Kesehatan Toba.  Kadis Kesehatan Toba menyebut JR Saragih menyalahi prosedur karena baru hasil Rapid Test.   Sejatinya, Kadis Kesehatan Toba berterima kasih kepada JR  Saragih karena warga Toba dirawat di Simalungun.  Pasien dari Kabupaten Toba  dirujuk dan dirawat di Kabupaten Simalungun. Pemkab Toba dalam hal ini dinas kesahatan Toba atau Gugus Covid Toba  segera berbenah untuk  menyikapinya, bukan  menyalahkan Gugus Covid 19 Simalungun karena diumumkan  positif Covid 19 hasil rapid test.  Komunikasi  Pemkab Toba dengan Pemkab Simalungun dalam konteks kasus ibu AS membuat masyarakat kebingungan. 

Dalam konteks kasus ini kita gunakan asumsi bahwa ibu AS positif di uji SWAB?.   Mengapa?.  Kita menggunakan prinsip zero risk  (resiko nol).  Jika kita menggunakan asumsi negative maka resiko teramat tinggi (high risk).  Jika asumsi kita positif, kita akan  siapkan rencana pengobatan bagi ibu AS, kemana, dana dan rencana  yang utuh kepada ibu AS.  Jika asumsi kita negatif  maka kita menunggu  dengan sabar  hasil uji SWAB. Menunggu hasil itu sekitar 4-5 hari dari Laboratorium Kemenkes Jakarta.  

Jika asumsi kita positif dan  hasil uji Swab negatif maka kita bersuka cita, tidak ada resiko. Jika asumsi kita negatif   hasilnya positif mengerikan, bukan?.  Apa lagi yang kita lakukan jika hasilnya positif?. Jika asumsi kita positif,  maka kita sudah menyiapkan data dengan siapa siapa saja ibu AS bersentuhan dan apa saja aktivitasnya.  Dalam berasumsi, pilihan terbaik adalah  resiko tertinggi, dengan demikian kita siap menyiasati resiko. Sikap  Kadis  Kesehatan Toba dan Gugus Covid 19  Toba yang berasumsi negatif  dan menyalahkan JR Saragih karena mengumumkan warga Toba di Simalungun positif Covid 19 hasil rapid test.  Jika kita serius memutus Covid 19, sikap  kedua pejabat Toba itu harus diubah.  Bila penting, segera diganti. Paradigma berpikirnya tidak mumpuni mengatasi Covid 19 yang penyebarannya secepat kilat.  Pengambil kebijakan dalam kondisi yang amat sulit ini dibutuhkan yang cerdas dan dapat bergerak cepat.  Kemampuan memperkirakan dan analisis resikonya harus mumpuni. 

Dalam hal kegiatan-kegiatan relawan Covid 19 untuk melakukan disinfektan, khususnya di kawasan danau Toba dan hampir di seluruh Indonesia  juga berasumsi bahwa mereka belum terpapar Covid 19. Kelihatan ketika rapat sebelum kegiatan dan ketika  berkegiatan dan selesai berkegiatan  mereka berdekatan. Asumsi mereka, semua negative Covid 19.  Asumsi paling aman adalah kita asumsikan kita dan kawan kita sudah terpapar Covid 19. Dengan asumsi itu, kita disiplin menjaga antibodi  dan berjauhan dengan yang lain. Asumsi itu yang paling aman. 

Asumsi juga kita gunakan dalam memperkirakan kapan Covid 19   berhenti atau selesai. Asumsi kita lebih lama lebih baik. Asumsi  kita berhenti 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun  atau Covid 19 ini terus ada dan akhirnya kita harus berdamai hidup dengan Covid 19?.  Jika harus berdamai, apa yang harus kita  lakukan?.  Apakah selamanya manusia   di kolong langit  ini tidak akan menemukan vaksin?. Atau, setiap orang saja menghadapinya dengan antibodi masing-masing kita?.  Semua itu dapat kita asumsikan.

Jika asumsi kita 6 bulan, lalu apakah kita stay at home  ( di rumah saja) selama 6 bulan?.  Jika asumsi kita 1 tahun?.  Jika  asumsi kita 6 bulan,  maka pertanyaanya adalah bagaimana dengan ketersediaan pangan?.  Bagaimana dengan kebutuhan pangan kota?.   Jika asumsi 6 bulan atau 1 tahun maka perlu dipikirkan bahwa hal ini kesempatan bagi petani untuk bercocok tanam. Sebab, produk impor berkurang secara drastis.  Semua kita harus memiliki rencana masing-masing dengan menggunakan asumsi. Perencanaan yang baik menggunakan asumsi. Asumsi membuat kita membuat berbagai perencanaan. Pemerintah harus memiliki asumsi, sehingga muncul berbagai scenario atau opsi menyiasati Covid 19.  Terutama scenario ketersediaan pangan dan alat-alat kesehatan. 

Apapun asumsi kita, hal yang tebaik bagi kita adalah meminimalisasi resiko. Covid 19 mengajarkan kita betapa penting perkiraan perkiraan yang jauh kedepan. Dalam perkiraan itu, hidup kita terus bergairah. Kita tidak perlu ketakutan berlebihan, sebab Tuhan memberikan kita hikmat dan Tuhan juga memberikan kemampuan kepada alam menuju keseimbangannya.  Kita banyak belajar dari Covid 19. Salah satu  dampak positif Covid 19 adalah bumi kita bernafas  karena eksploitasi Sumber Daya Alam berhenti. Mungkin Pemanasan global (global warming) terhenti sejenak.  Covid 19 membuat bumi bernafas.  Selamat menikmati masa masa sulit ini. 

Penulis adalah alumnus pascasarjana IPB bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.  Tenaga Ahli di Komisi VI DPR RI. (gurgur manurung)

Exit mobile version