
Menurut Fadli Zon, persoalan melangkahi makam itu tak penting untuk diangkat menjadi masalah politik.
“Saya belum lihat sih. Tapi saya kira itu teknis banget ya, Mungkin agak repot atau apa,” kata Fadli Zondi Gedung Nusantara III DPR RI, Senin (12/11/2018)
“Apa sih, masalah-masalah kayak begini dampaknya bagi bangsa? Saya kira masalah makam saja. Menurut saya, yang harus diangkat itu ekonomi seperti apa, hidup susah, harga meningkat. Tapi kalau masalah makam jadi pemberitaan agak bagaimana ya, saya kira agak kurang mendidik,” pungkasnya.
(Suara.com, Senin 12′ November’ 2018)
Di sini masalahnya. Masyarakat umum, terutama kalangan Nahdliyin sangat keberatan dengan sikap Sandiaga Uno melangkahi makam seorang ulama yang sangat berjasa bagi perkembangan Islam di Indonesia; Kyai Bisri Syansuri. Beliau adalah tokoh besar NU, pejuang kemerdekaan dan politikus berpengaruh dipartai-partai Islam. Semasa hidup beliau dicintai, bahkan setelah wafat beliau tetap dihormati. Kyai Bisri Syansuri telah berpulang. Makamnya boleh kita ziarahi, bukan untuk diagung-agungkan atau dikeramatkan, tapi bukan juga untuk dilangkah-langkahi. Kelakuan Sandiaga yang seperti anak kecil itu jelas menuai kecaman dari banyak pihak, terutama dari masyarakat di seputaran Jawa Timur.
Di tengah hujan kecaman, seorang lagi pendukung Sandiaga datang membela. Dengan kebiasaan nyinyirnya yang ultimate, dia berusaha mengalihkan perhatian. Orang ini setiap hari berisik bicara soal ekonomi, meributkan kenaikan harga ini-itu, ramai menyebarkan kebencian di Twitter, sampai menyindir-nyindir pemerintah dengan puisi. Sekarang orang ini menyepelekan hal yang dianggap tabu di masyarakat, dengan mengatakan bahwa meramaikan persoalan makam adalah pemberitaan yang kurang mendidik, kurang berpolitik. Orang ini tidak lain adalah Fadli Zon, teman separtai sekaligus supporter Sandiaga Uno.
Ini bukan masalah tekhnis. Si pintar Fadli Zon saja yang kurang belajar. Justru disini Sandi sedang mendidik teman-teman politikusnya agar tidak bersikap serampangan seperti dia. Mau pencitraan tidak dilarang, tapi etika jangan sampai dilupakan. Ziarah makam tidak bisa dilepaskan dari unsur kepercayaan dan kebiasaan. Masyarakat kita umumnya menghargai orang-orang yang sudah meninggal dunia, apalagi bila almarhum adalah orang yang sangat dicintai dan dihormati. Dengan kejadian ini mudah-mudahan Sandi tidak sampai disumpahi masyarakat Jombang. Cukuplah bila predikatnya sebagai ulama instan dan santri post-Islamisme dilucuti saat ini juga.
Kalau nanti Fadli Zon sudah dimakamkan, plengosi saja makamnya, jangan dido’akan. Dia tidak punya karomah, jangan mampir-mampir ke sana.