Site icon indovoices.com

Kartini, Pilpres 19 Dan Masa Depan Indonesia

 

“Siapakah yang akan menyangkal bahwa wanita memegang peranan penting dalam hal pendidikan moral pada masyarakat. dialah orang yang sangat tepat pada tempatnya. Ia dapat menyumbang banyak (atau boleh dikatakan terbanyak) untuk meninggikan taraf moral masyarakat. Alam sendirilah yang memberikan tugas itu padanya.
Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama, dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak….” (RA Kartini dalam subuah suratnya)

Diatas adalah sepotong tulisan RA Kartini ditulis diawal abad 19 hampir 100 tahun yang lalu, dan masih relevan bahkan sangat relevan buat bangsa Indonesia saat ini, yang baru saja sukses menyelenggarakan pemilihan umum terbesar sepanjang sejarah Republik ini. Selamat buat semua pihak yang sudah terlibat aktif dalam pesta demokrasi terbesar ini.

Hasil Pilpres 2019 versi hitung cepat (QC) oleh berbagai lembaga kredibel sudah diumumkan, pemenangnya adalah petahana; pasangan calon no 01, tetapi yang heboh di media mainstream dan sosial media adalah klaim sepihak dari pasangan calon presiden 02 yang telah mendeklarasi diri  3 kali dalam 2 hari. Kemudian diikuti pula oleh tim pemenangan nasional  01 sebagai upaya “counter” terhadap claim pasangan 02. Untuk taat azas sebaiknya semua pihak menahan diri. Sesuai ketentuan KPU penentuan pemenang akan didasari hasil real count yang akan diumumkan tanggal 22 mei 2019.

Dari hasil QC yang sudah diumumkan oleh lembaga lembaga survey kredibel tersebut, terlihat calon  Presiden Jokowi & Kyai Maruf Amin, menang signifikan di beberapa propinsi dengan pemilih  jumlah besar seperti  Jawa Tengah, Jawa Timur,  menang telak di propinsi Bali;  kalah signifikan  di Provinsi besar Jabar, kalah telak di provinsi DI Aceh dan Sumbar.

Kekalahan telak Jokowi di Sumbar, Aceh dan  Jabar diluar perkiraan  Tim Pemenangan Nasional  01, bahkan Jokowi sendiri pun tidak menduga akan kalah setelak itu di 3 daerah tersebut. Bukan Jokowi namanya  kalau tidak memberi respon khas jawa nya ketika mengetahui kekalahan telaknya terutama di Sumbar.  Satu hari setelah pehitungan cepat diketahui Jokowi memberi signal “I love you Sumbar”, dengan pergi ke restoran Minang,  tak ada istilah air susu dibalas dengan air tuba dalam kamus besar Jokowi. Kode “I love you Jabar”  harus ditunjukkan  juga oleh Jokowi .

Lantas apa korelasi cukilan  surat RA Kartini dengan hasil Pilpres 2019?

Berdasarkan survey tingkat kepuasaan atas kepemimpinan Jokowi masih diatas 65%, kenyataan nya yang memilih Jokowi  di 2 propinsi sumatera tersebut kurang dari 20%. Angka yang berbanding terbalik. Dugaan terbesar adalah masyarakat di 2 propinsi tersebut, sudah termakan isu2 yang mendelegitimasi Jokowi, isu hoax, berita tak benar dan  tak berdasar  tentang jokowi terus digaungkan. Isu  Jokowi PKI, Jokowi pro aseng, antek asing, pendukung penista agama, djalim pada ulama , tidak berpihak pada Islam, terus di daur ulang, sehingga tidak ada akal sehat lagi dalam menilai prestasi Jokowi dalam membangun infrastruktur berbagai daerah di 2 propinsi tersebut.

Sekarang mari kita lihat hasil pilpres 2019 di 2 provinsi Sumatera dan sebagian besar Jabar dari kacamata RA Kartini. Isu hitam tentang Jokowi begitu mudah di lahap oleh masyarakat, mereka taklid buta. RA Kartini jauh jauh hari sudah mengingatkan betapa pentingnya peran wanita dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dimulai dari usia seorang bayi, sentuhan kasih sayang sang bunda sangat utama dalam membentuk moral  dan karakter. Bangsa ini tidak akan kemana mana ketika akal sehat tidak lagi dipakai .

Lantas bagaimana dengan masa depan Indonesia?. Periode ke 2 Jokowi ingin mengembangkan “software”  (manusia alias SDM) bangsa ini, tapi apakah semudah itu? Bagaimana Jokowi mengeleminir  peran tokoh2 masyarakat dan pemuka organisasi yang mengatas namakan agama, mereka sudah berakar dalam instansi pemerintah, dunia pendidikan, maupun organisasi 2 masa tertentu, yang sering kali jadi penghambat pengembangan  SDM di negeri ini, itulah tantangan terbesar jokowi kedepan

 

Selamat Hari Kartini!

bangkit lah wanita wanita perkasa Indonesia

Exit mobile version