“Patra adalah pahlawan bagi masyarakat di pedalaman Mairasi (nama suku di pedalaman Naikere). Sementara kami anak-anak negeri ini banyak yang jadi Yudas (murid yang mengkhianati Yesus),” kata Waropen.
Sementara itu, kabar meninggalnya Patra menjadi sorotan sejumlah tokoh.
Salah satunya tokoh pemekaran Teluk Wondama, Hendrik Mambor. Dirinya menyampaikan rasa duka mendalam atas kepergian almarhum.
“Mewakili Lembaga Masyarakat Adat Teluk Wondama dan seluruh pejuang pemekaran Kabupaten Teluk Wondama, kami hanya bisa mengucapkan penghargaan atas dedikasimu dan jerih lelahmu bagi masyarakat, khususnya masyarakat di pedalaman Udik Simo, Kampung Oya. Kami tidak mampu membalas jasa baikmu,” tulis Mambor.
Sumber: Kompas
Catatan dari IV
Di sini baru kita merasakan betapa pentingnya infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah. Walau pembangunan infrastruktur berupa jalan, sangat massif di tanah Papua. Namun belum menjangkau hingga daerah-daerah terpencil seperti di kampung Oya ini. Bila infrastruktur sudah menjangkau, mungkin tidak perlu mengorbankan satu nyawa hanya untuk menunggu dijemput dengan helikopter.
Patra bukanlah satu-satunya mantri yang bertugas penuh dedikasi. Masih banyak Patra-Patra lainnya yang berjuang penuh pengabdian jauh di daerah pedalaman dan daerah perbatasan sana.