Site icon indovoices.com

Beda Suku Atau Beda Agama Haruskah Jadi Dinding Pemisah?

Kita diciptakan memang berbeda, bahkan dalam satu keluarga yang berasal dari satu ayah dan satu ibu saja, bukan hanya wajah saja yang berbeda, tapi perangai dan sikap mentalpun tidak sama. Hingga sama-sama dewasa, maka nasib pun bisa saja berbeda, yakni yang seorang nasibnya lebih baik daripada nasib saudara kandungnya. Padahal mereka terlahir dari darah daging yang sama. Apalagi bila kita bercerita tentang perbedaan dengan orang lain, yang sama sekali tidak ada hubungan kekeluargaan dengan diri kita, sudah pasti tidak akan sama.

Dunia Terdiri Dari Berbagai Suku Bangsa

Kalau untuk menjalin persahabatan, orang harus menyaring dan memilah milah terlebih dulu, mana yang sesuku dan mana yang seiman, alangkah repotnya hidup ini. Akan tetapi semuanya tentu terpulang pada pribadi masing-masing.

Karena sejak dari kecil, kami dilahirkan dan di besarkan serta dididik untuk bergaul dengan siapa saja, maka perbedaan suku dan agama, bagi kami sama sekali bukan merupakan dinding pemisah. Kami melihatnya seperti memasuki taman dengan aneka ragam bunga yang berwarna-warni

Sekampung Bukan Berarti Sesuku Dan Seiman

Kami mengenal keluarga pak Jamaris Jamaan, sejak tahun 70-an, ketika sama-sama di kota Padang. Pak Jamaris Jamaan pada waktu masih aktif bertugas di Kasdam dengan pangkat Kolonel TNI AD. Kemudian menjadi Kadit Sospol dan sekaligus Ketua Orari Daerah Sumatera Barat. Sedangkan saya dan istri juga aktif sebagai Pengurus Orari, Maka kami sering bertemu.

Karena merasakan ada  saling kecocokan, maka  antara keluarga kami dan Keluarga Pak Jamaris Jamaan, sudah menjadi seperti keluarga. Kalau kami  datang bertamu, maka kami tidak segan ikut makan siang dan begitu juga, bila ada masakan yang enak, kami telpon dan Pak Jamaris datang kerumah kami di Wisma Indah I.

Hubungan  antara kedua keluarga, steril dari hal-hal yang bersifat materi dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan bisnis apapun, sehingga langgeng selama belasan tahun hingga kami pindah ke Jakarta

Sempat Kehilangan Kontak

Sejak kami pindak ke Jakarta dan kemudian tinggal di Australia, kami kehilangan kontak. Baru belakangan ini, menyambung kembali melalui facebook, dengan putri pak Jamaris yang bernama Yenny.

Tentu saja kami sangat senang dan  bermaksud untuk berkunjung. Namun dari Yenny, kami dapat kabar bahwa ayahnya pak Jamaris sudah berpulang, Kami sangat sedih mendapatkan berita duka ini.

Akhirnya Kami Bertemu Dalam Segala Perbedaan

Kesempatan pulang ke Indonesia, maka kami manfaatkan peluang ini untuk bertemu dengan keluarga almarhum pak jamaris Jamaan dan hari ini, harapan tersebut menjadi kenyataan. Yenny dan Adek datang bersama bunda tercinta, yang  merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi kami  berdua.

Kebahagiaan ini semakin lengkap dengan hadirnya  sahabat baik kami, pak Mohammad Fasial Anwar, yang berkarya memimpin Sekretariat Orari Pusat sejak dulu dan masih aktif hingga kini. Hadir bersama istri dan anak mantu serta cucu-cucu.

Dan lengkaplah sudah kebahagiaan kami, ketika sahabat kami Pak justian serta istri, Mr.Happy yang datang dari Pekalongan, pak T..K.Ping, Pak Eko dan Bu Diena orang sekampung kami Beda suku dan beda agama, sama sekali bukanlah merupakan dinding pembatas, melainkan  justru menghadirkan kebahagiaan bagi kami  semuanya.

Sungguh, keindahan hidup itu tidak tergantung, pada seberapa banyaknya uang deposito yang dimiliki atau seberapa hebatnya diri kita, melainkan seberapa banyak orang yang mau menjadi sahabat kita!

Tjiptadinata Effendi

Exit mobile version