Site icon indovoices.com

Indonesia Perlu Belajar Dari Australia…. 

Menyaksikan kondisi di negeri kita, di mana Capres yang kalah tidak mau mengakui kekalahannya, bahkan mengajak ribut sana sini, kita sungguh sangat malu dengan negara tetangga kita, Australia.

Masalahnya, kemarin tanggal 18 Mei 2019, mereka juga menyelenggarakan Pemilu. Bedanya, kita memilih Presiden, mereka memilih Perdana Menteri. Pada awalnya Bill Shorten digadang-gadang berbagai kalangan di Australia bahwa ia akan memenangkan pemilihan kali ini. Tapi kenyataannya tidak seperti yang diramalkan berbagai media.

Yang paling menarik adalah ketika suara yang masuk sudah mencapai tiga perempat dari jumlah sekitar 16,4 juta suara pemilih. Shorten dengan sportif menelpon rivalnya Scott Morrison  dan memberikan ucapan selamat.

Morrison  baru yakin akan kemenangan partainya setelah menerima telepon dari Shorten yang mengaku kalah. Pengakuan kalah Shorten setelah Komisi Pemilihan Australia menerima tiga perempat suara yang masuk. Hasilnya partai Koalisi Liberal meraih 74 kursi dari 151 kursi di parlemen.

Walaupun jelas bagi Bill Shorten  kekalahan tersebut  terasa amat pahit, namun Shorten tetap tampil memberikan penghargaan kepada para pendukungnya dan mengatakan “Kepahitan yang anda rasakan, juga saya rasakan”. Tapi kita harus sportif mengakui, bahwa kita kalah Dan hal ini dibuktikannya dengan tidak menyalahkan siapa-siapa. Bahkan secara spontan menyatakan mengundurkan diri dari jabatan sebagai Ketua Partai, karena tidak mampu memenangkan pemilu.

Menerima Kekalahan Secara Ksatria

Pemilu Australia yang digelar kemarin, 18 Mei 2019 yang melibatkan hampir 17 juta pemilih di seluruh Australia. Telah membuat kejutan dengan terpilihnya Scott Morisson sebagai peraih suara terbanyak, mengalahkan  Partai Buruh yang dipimpin oleh Bill Shorten.

Walaupun hingga saat-saat akhir banyak kalangan amat yakni bahwa partai yang berada di bawah pimpinan Bill Shorten ini akan memenangkan pemilu dengan perolehan suara sekitar 51 persen.

Namun ternyata Partai Koalisi Nasional Liberal yang dipimpin oleh Perdana Menteri Scott Morrison meraih suara terbanyak dan mengalahkan Partai Buruh.

16,4  juta pemilih memberikan suaranya di tempat pemungutan suara yang dibuka pada jam 8 pagi dan tutup pada jam 6 sore. Lebih dari 7 ribu TPS disediakan seperti di klub, sekolah, dan ruang publik. Di luar negeri, disediakan sekitar 90 TPS. Sehubungan ada perbedaan waktu antara wilayah barat dan timur Australia selama 2,5 jam membuat penghitungan suara disesuaikan dengan waktu masing-masing wilayah.

Menyukuri kemenangannya, hal pertama yang dilakukan oleh Scott Morrison adalah ke gereja bersama keluarganya, untuk mengucap syukur atas kemenangannya.

sumber bacaan: theguardian.com 9news.com.au abc.net.au .com dan sumber lainnya

Bill Shorten Kalah Secara Terhormat

Pemilu di Australia sudah berakhir dan pemenangnya Scott Morrison tentu saja berhak merayakan kemenangannya bersama para pendukungnya. Namun kendati kalah, sosok Bill Shorten tetap mendapatkan tempat terhormat bagi para pendukungnya.

Karena ia mampu menunjukan bahwa dirinya adalah kandidat Perdana Menteri yang berjiwa besar. Terbukti dengan rendah hati menelpon lawannya yakni Scott Morrison, ketika tiga perempat perhitungan suara sudah masuk dan ia kalah suara.

Hal ini patut menjadi pelajaran bagi para politisi di Indonesia, agar menyadari, bahwa dalam sebuah pertarungan, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Orang tidak hanya bisa menang secara terhormat, tapi juga kalah secara sportif. Seperti halnya Bill Shorten, kendati kalah dalam Pemilu dan gagal menduduki kursi Perdana Menteri, namun ia telah memenangkan hati para pendukungnya, karena mampu membuktikan, bahwa dirinya memang pantas untuk menjadi kandidat Perdana Menteri

Tjiptadinata Effendi

Exit mobile version