Site icon indovoices.com

Logika dan Berprikir Kritis (Bagian 1)

Ditinjau dari segi asal kata, maka kata logika adalah  dari kata logos yang berarti ‘pengertian atau pemikiran atau ilmu‘.  Logika atau penalaran merupakan suatu proses berfikir yang menghasilkan pengetahuan baru, yang pada hakikatnya pengetahuan tersebut dihasilkan dari penalaran yang mempunyai hukum dasar kebenaran melalui proses berfikir yang harus dilakukan dengan cara dan prosedur tertentu. Dari cara berfikir tersebut tentunya akan menghasilkan suatu kesimpulan yang dianggap ideal dan valid dengan cara yang dilakukan tersebut.

Pada dasarnya logika dapat di artikan dalam beberapa pengkajian yang luas untuk berfikir secara valid. Dalam penalaran ilmiah, proses untuk mencapai kebenaran ilmiah dikenal dengan dua jenis cara penarikan kesimpulan yaitu Logika Induktif dan Logika Deduktif.

Logika deduktif menggunakan informasi, premis atau peraturan umum yang berlaku untuk mencapai kesimpulan yang telah terbukti. Di sisi lain, logika atau penalaran induktif melibatkan generalisasi berdasarkan perilaku yang diamati pada kasus tertentu. Argumen deduktif bisa valid atau tidak valid. Tapi logika induktif memungkinkan kesimpulan itu salah, bahkan jika premis yang mendasarinya benar. Jadi argumen induktif bisa kuat atau lemah.

Logika deduktif (penalaran atas-bawah) kontras dengan penalaran induktif (penalaran bawah-atas), dan umumnya dimulai dengan satu atau lebih pernyataan umum atau premis untuk mencapai kesimpulan logis. Jika premis itu benar, kesimpulannya harus benar. Pengambilan deduktif digunakan oleh ilmuwan dan ahli matematika untuk membuktikan hipotesis mereka.

Persamaan: keduanya mendasari argumentasi dari premis yang mendukung kesimpulan .

Perbedaanya: argumentasi dalam penalaran induksi mempunyai premis yang benar namun kesimpulannya dapat salah .

Perbedaan Logika Deduktif dan Induktif (sumber: apaperbedaan.com)

LOGIKA INDUKTIF

Secara singkat Logika Induktif dapat disimpulkan sebagai berikut:

Karakteristik Penalaran Induktif:

  1. Premisnya merupakan proposisi empiris yang berhubungan langsung dengan indera
  2. Kesimpulan dalam penalaran induktif lebih luas
  3. Proses penaralan: Generalisasi, Analagi, Hubungan Kausal (sebab akibat)

Proses Penalaran Induktif

Generalisasi Induktif

Syarat Generalisasi

  1. Generalisasi tidak terbatas secara numerik .
  2. Generalisasi tidak terbatas secara spasio-temporal
  3. Generalisasi harus dijadikan dasar pengandaian

Contoh:

 

Analogi Induktif

Faktor Probabilitas
Tinggi rendahnya probabilitas suatu kesimpulan dipengaruhi oleh:

  1. Faktor Fakta : Semakin besar jumlah fakta maka akan semakin besar probabilitas konklusinya
  2. Faktor Analogi : Semakin besar jumlah faktor analogi dalam premis, maka probabilitasnya semakin rendah
  3. Faktor Disanalogi : Semakin kecil jumlah faktor analaogi dalam premis, maka probabilitasnya semakin besar
  4. Faktor luas Konklusi : Semakin luas konklusinya, semakin rendah probabilitasnya

Kesesatan Analogi
Faktor-faktor yang menyebabkannya adalah :

  1. Faktor tergesa-gesa
  2. Faktor Ceroboh
  3. Faktor Prasangka

Contoh:

Hubungan Sebab-Akibat

  1. Pola sebab-akibat
  2. Pola akibat-sebab
  3. Pola akibat-akibat

Contoh:

LOGIKA DEDUKTIF

Secara singkat Logika Deduktif dapat disimpulkan sebagai berikut:

Karakteristik Penalaran Deduktif:

  1. Pernyataannya adalah proposisi kategoris
  2. Terdiri dari dua premis dan satu kesimpulan
  3. Dua premis dan satu kesimpulan, memuat tiga term (kata)

Contoh Silogisme
Setiap wanita memiliki rahim
Iyuth seorang wanita
Maka, Iyuth memiliki rahim

 

Nantikan seri tulisan menarik Berpikir Logis lainnya (SP)

 

Referensi: berbagai sumber

Exit mobile version